What's On

19/11/2018
Hey, Anak Muda Masa Kini! Jangan Mimpi Punya Rumah di Jakarta

Urbantown.id, Serpong – Milenial, menjadi istilah kekinian yang semakin banyak digunakan belakangan ini. Sebuah ibarat yang merujuk pada perhitungan tahun masehi. Istilah yang kemudian diartikan sebagai sebuah tatanan baru dalam kasta generasi. Milenial kemudian banyak digunakan untuk  mewakili anak-anak muda yang melek gadget, mereka yang tengah menjajaki karir dan dunia kerja.

Dominasi milenial dalam tatanan sosio-kultural saat ini tanpa signifikan. Ini bukan hanya karena jumlah mereka yang lebih masif dibanding generasi lainnya, tetapi juga eksposur sosial media yang kian tajam. Medium ini menjadikan eksistensi milenial lebih nampak signifikan. Namun, di lain sisi, mereka yang mengaku milenial juga diam-diam punya kegelisahannya sendiri.

Beberapa isu yang walau tidak muncul ke permukaan, sebenarnya telah lama menjadi hal yang pada akhirnya akan menjadi masalah besar bagi para milenial. Terlepas dari urusan jodoh dan percintaan, isu lain yang lebih besar adalah kepemilikan hunian. Milenial seringkali luput betapa pentingnya memiliki dan mulai memikirkan masa depan.

Fakta membuktikan, status kepemilikan hunian di Jakarta menunjukkan bahwa lebih dari setengah warga di Jakarta tidak memiliki rumah sendiri di kotanya sendiri. Dari sumber yang dirilis oleh URBANtown byPT PP URBAN, 43.91% dari jumlah hunian di Jakarta berstatus hak milik. Sementara itu, sisanya punya status beragam, mulai dari kontrak, sewa, rumah dinas, rumah bersama, dan lain-lain.

Jika kita mengambil asumsi harga rumah paling terjangkau di Jakarta berada di angka Rp350 juta saja, maka dapat dipastikan hampir semua milenial dinilai tidak akan mampu membelinya. Walau dengan cara bayar cicilan, para milenial akan dibebani paling tidak Rp8 jutaan setiap bulannya untuk membayar cicilan rumah. Skema ini yang membuat tren ngekos/ngontrak di Jakarta akan terus ada, paling tidak sampai lima tahun ke depan.

Jadi, masih mau mimpi punya rumah sendiri, guys?

Ini Alasan Mengapa Punya Rumah di Jakarta Memang Hanya Mimpi

Sebuah survey menunjukkan fakta bahwa pendapatan rata-rata para milenial di Jakarta atau kota-kota besar berada di kisaran angka Rp6 juta sampai Rp7 jutaan per bulan. Ini bisa jadi merupakan sebuah prestasi, bagi sebagian yang baru merasakan dinamisnya dunia kerja, serunya menjejaki karir, dan menjadi seorang professional. 

Namun, pada saat yang sama, ini merupakan sebuah delusi yang hampa-asa. Mengapa demikian? Karena kebanyakan angkatan kerja tersebut, belum mampu menempatkan masa depan secara proporsional. Mereka yang lazim kita sebut sebagai milenial, mengutamakan kehidupan sosial dan gaya hidup sebagai sebuah hal yang begitu penting. Lebih penting dibanding usaha untuk memiliki hunian sendiri.

Ini adalah ironi. Karena mau tidak mau, jika paradigma itu terus mengakar, akan makin sedikit para pekerja di kota-kota besar yang mampu memiliki rumah sendiri. Seperti studi yang dirilis oleh Urbantown oleh PT PP Urban tentang status kepemilikan rumah atau hunian di Jakarta yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari jumlah hunian di Jakarta berstatus sewa atau sejenisnya.

Ada lebih dari 56% hunian di Jakarta yang statusnya bukan dimiliki oleh penghuninya. Variasinya beragam, paling banyak didominasi oleh status sewa/kos/kontrak. Sisanya ada yang berstatus rumah dinas, rumah keluarga/rumah bersama dan lain sebagainya. Fakta ini sangat mungkin untuk berubah beberapa tahun mendatang. Angka kepemilikan rumah akan semakin menurun seiring dengan kenaikan harga properti yang tinggi.

Kanaikan harga hunian yang tidak mampu diimbangi dengan kenaikan pendapatan warganya. Kalau kita berani ambil asumsi harga hunian paling terjangkau di Jakarta adalah Rp350 juta, dengan rata-rata gaji para first worker adalah Rp7 juta, ini sama saja dengan memupuk angan dan mimpi untuk memiliki hunian sendiri di Ibukota. Jadi, ngontrak for life, uh?

Jangan Mimpi Punya Rumah di Jakarta Kalau Belum Bisa Nyicil Rp 8 juta Tiap Bulan

Rasanya sudah lama sekali sejak pertama kali dulu, kita mendapatkan istilah kebutuhan primer manusia terbagi menjadi tiga. Adalah sandang, pangan, dan papan. Bagi mereka yang mengaku sebagai bagian dari milenial, paham ini bukanlah hal yang baru. Atau bahkan mungkin juga bukan hal yang penting. Karena kini, kebutuhan primer tidak sebatas tiga hal tersebut.

Berbicara tentang kebutuhan primer, sandang dan pangan rasanya telah menjadi bagian terpenting saat ini. Dua hal utama yang secara tidak langsung menjadi gaya hidup kita sehari-hari. Namun, tidak demikian dengan papan. Kebutuhan akan hunian yang kini mulai bergeser menjadi ‘asal nyaman dan dekat kantor’. Hunian atau rumah bukan lagi menjadi hal utama untuk dimiliki.

Terlebih bagi mereka, para milenial, yang lebih sibuk meniti karir dan menjajaki kehidupan sosial. Agar tetap tune in dengan tren masa kini. Kebanyakan milenial belum menempatkan kebutuhan akan hunian menjadi hal yang prioritas. Hal ini sejalan dengan studi yang dirilis URBANtown by PT PP Urban, yang menunjukkan bahwa lebih hanya 43% hunian di Jakarta berstatus hak milik.

Bukan tanpa alasan, sisanya yang lain, lebih dari 56% lainnya hanya berstatus mengontrak/ngekos di Jakarta. Ini merupakan logika sederhana, milenial yang baru saja menapaki karir memiliki gaji rata-rata Rp 7 jutaan per bulan. Dengan asumsi pemenuhan gaya hidup kekinian, maksimal yang bisa dialokasikan untuk saving sebatas di angka Rp4 juta. Itu pun di luar kebutuhan insidential yang seringkali membuat pendapatan para milenial menguap begitu saja setiap bulannya.

Padahal, untuk memilki rumah sendiri di Jakarta atau daerah terdekat di sekitarnya, paling tidak membutuhkan dana sebesar Rp350 juta. Itu sama dengan cicilan senilai sekitar Rp8 juta setiap bulan. Artinya, para milenial dengan gaji Rp7 juta, perlu bekerja paling tidak dua kali lebih keras untuk mampu memiliki rumah sendiri. Ini alasan yang membuat kontrakan dan kos-kosan menjadi solusi paling praktis.

Kalau tidak ada uang yang jatuh dari langit atau warisan orangtua, atau developer yang berani berinovasi menyediakan hunian terjangkau, sampai kapan para milenial harus ngontrak?

Hanya 43% Warga Jakarta yang Punya Rumah Sendiri

Ya, benar! Ini adalah fakta yang ada. Hasil studiURBANtown dari PT PP Urban, hanya kurang dari setengah dari jumlah hunian yang ada di Jakarta yang berstatus hak milik. Sisanya, ada yang berupa kontrakan, kos-kosan, rumah sewa, rumah dinas, rumah keluarga/bersama, dan lain-lain. Ini merupakan fakta yang cukup menarik mengingat tingkat kepadatan di Jakarta yang cukup tinggi.

Rendahnya status kepemilikan rumah atau hunian di Ibukota menunjukkan ketidakseimbangan perekonomian dan pendapatan warganya. Secara tidak langsung, ini membuktikan bahwa kebanyakan warga Jakarta atau mereka yang bekerja di Jakarta belum mampu memiliki rumah sendiri di Jakarta. Ini merupakan isu multidimensi, karena bukan hanya menyinggung tentang tingkat pendapatan, tetapi juga melambungnya harga properti di kota-kota besar.

Dibutuhkan lebih dari sekadar investasi besar untuk mewujudkan hunian terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Pemerintah sebagai regulator dituntut untuk lebih longgar merilis aturan kepemilikan rumah, perbankan diharapkan menjadi partner pembiayaan yang suportif, dan tentu saja para pengembang atau developer idealnya bisa mengakomodasi kebutuhan hunian yang setiap tahun selalu meningkat.

Kapan Sebaiknya Kamu Punya Rumah Sendiri?

Kamu tahu nggak? Kalau salah satu artikel atau konten yang paling populer di Internet adalah tulisan atau image yang membahas tentang jodoh dan pernikahan? Ya! Konten tentang percintaan, kegelisahan mereka yang tak kunjung menemui jodoh, putus cinta, dan sejenisnya sangat mudah menyebar di dunia maya. Bukannya tanpa alasan, mereka yang mengonsumsi konten seperti itu memang adalah yang mendominasi jagad dunia maya saat ini.

Generasi milenial, mungkin kamu adalah satu di antara jutaan yang mengaku demikian, adalah mereka yang lahir di rentang tahun 1981 – 1994. Jumlahnya tidak main-main, hampir setengah dari penduduk jagad dunia maya. Ini yang men-generate konten tersebut mudah viral. Karena isu dan kegelisahan yang dirasakan pun seragam.

Konten tentang pernikahan ini kian marak dan menjamur secara tidak langsung turut menyuburkan bisnis yang berkorelasi dengannya. Lihatlah betapa Bridestory selalu sukses menggelar pameran. Lihatlah betapa para key opinion leader menyesaki linimasa dengan tren pernikahan masa kini. Kultur kebarat-barat-an yang serba konsumtif dan lain sebagainya.

Padahal, jika mau sedikit berpikir lebih panjang, hal yang lebih urgent setelah menikah adalah tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di mana nanti kalian kelak akan membina rumah tangga, bagaimana kalian cekatan menyiapkan masa depan bersama, dan merencanakan hal-hal lainnya. Ya, kamu yang tengah membaca tulisan ini sudah saatnya mulai berpikir tentang rumah atau hunian idaman.

Sudah saatnya menghitung dan mengukur kemampuan diri untuk merencanakan tempat tinggal bersama dia. Jadi, kapan sebaiknya kamu punya rumah sendiri? Jawabnya adalah sekarang!